Bangun Reputasi Via Facebook

February 23rd, 2010 by jose

Facebook merupakan inovasi dan revolusi dalam teknologi informasi. Khususnya bagaimana relasi manusia dengan komputer. Relasi yang memiliki multiplikasi dalam pembangunan masyarakat. Ia memfasilitasi proses peran serta masyarakat (involvement). Ia menjembatani bagaimana konsep dan praktek partisipasi masyarakat secara luas (inclusion). Singkatnya, Facebook memungkinkan masyarakat memiliki 3 (tiga) prakondisi supaya berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat, yaitu : adanya jaminan akses masyarakat terhadap informasi (acces), adanya wadah untuk mengakomodasikan pendapat masyarakat (voice), dan adanya jaminan bagi peran aktif masyarakat melakukan kontrol (control).

Reputasi : knowledge management

Acces, voice, dan control merupakan fondasi public relations yang efisien dan efektif untuk membangun reputasi. Reputasi adalah apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan dan apa yang orang lain katakan tentang kita (Alison Theaker, 2001). Reputasi, lanjutnya, adalah segala-galanya dalam public relations. Artinya, kinerja dan pencapaian seseorang dan organisasinya yang baik sama strategisnya dengan bagaimana seseorang mengkomunikasikannya. Alasanya adalah kinerja dan pencapaian yang baik akan memberi nilai tambah bagi seseorang atau organisasinya kalau diketahui publik. Reputasi adalah hasil akhir dari kinerja dan perilaku yang konsisten, yang kemudian secara konsisten pula dikomunikasikan kepada publik (John Doorley dan Helio Fred Garcia, 2007, Reputation Management: The Key to Successful Public Relations and Corporate Communication).

Facebook menjadi media impian para praktisi komunikasi untuk mengaplikasikan tips-tips membangun reputasi. Lagipula, ia merupakan forum publik baru yang paling dinamis. Setiap orang melakukan public relations dirinya di tengah masyarakat dengan kata-kata, gambar, foto, video, dan iklan, sebagaimana layaknya sebuah perusahaan melakukannya kepada stakeholders dan shareholders. Facebook bahkan bisa disebut sebagai trendsetter perubahan sosial saat ini. Tetapi, sebagai trendsetter, kita juga perlu melihat apa perbedaannya dengan media konvensional soal menstimulasi perubahan sosial.

Facebook versus media konvensional

Kolumnis, jurnalis, reporter dan wartawan media konvensional berkomunikasi searah dalam waktu dan ruangan terbatas.  Paulo Freire menyebutnya ”model komunikasi gaya bank”. Artinya, segelintir ”komunikator” memberikan pesan dan mengalihkan ”tabungan” pengetahuan, nilai, dan norma-normanya kepada masyarakat ”gagap” sebagai komunikan. Harapannya adalah masyarakat ”menggunakan” isi tabungan tadi untuk kehidupan dan gaya hidup ”modern”.  Tapi konsekuensinya, selain masyarakat atau komunitas tertentu kehilangan kontrol atas media dan isinya (Oepen, 1988a) juga  mereka teralienasi dari konteks struktural dan kulturalnya.

Mark Zuckerberg membelah dominasi ”model komunikasi gaya bank” dengan model  komunikasi dan informasi partisipatif dalam jejaring sosial situs Facebook. Sentralisasi membuat publikasi media konvensional menjadi kaku. Arus informasi antara komunikator dan komunikan dari semua tempat amat terbatas. Sedangkan facebooker akan menerima informasi dari mana saja. Deadline dan isi tematis menciptakan priviledge siapa yang menjadi komunikator tentang apa.  Fleksibilitas Facebook menciptakan kelancaran lalu lintas komunikasi dan informasi tanpa batas.

Facebook : komunitas tematis lahir tiap hari

Media konvensional bersifat elitis lantaran isinya yang padat, terstruktur, dan exact. Berita ringkas dan ringan  facebook digandrungi oleh semua kalangan.  Media konvensional kadang-kadang menjadi representasi kekuatan ekonomi, sosial dan politik. Itu membuatnya sulit menjadi media pergerakan sosial yang membutuhkan kemendesakan tertentu. Kini, facebook menjadi media bagi forum pergerakan sosial tematis alternatif untuk mempengaruhi opini publik. Beberapa contoh seperti dukungan untuk Prita Mulyasari, penjelasan kriminalisasi KPK, promosi Komodo jadi salah satu keajaiban alam dunia, dukungan untuk Integritas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam kasus Bank Century dan sebagainya. Dengan kata lain, Facebook menjadi media ekspresi diri masyarakat dalam menyatakan solidaritasnya. Ia juga memfasilitasi berbagai solusi atas problem-problem aktual kemasyarakatan. Inilah yang membuat komunitas tematis lahir setiap hari di Facebook.

Dalam media konvensional, publik lebih menilai aspek IQ seorang kolumnis, jurnalis, komentator, wartawan dan pembaca berita daripada aspek lain seperti EQ dan SQ. Tetapi, seorang facebooker bisa mempresentasikan  aspek IQ, EQ dan SQ secara integratif dengan berita, foto dan gambarnya.

Saat ini, facebook menciptakan revolusi komunikasi pemasaran diri dan organisasi. Selain karena luasnya kebebasan seseorang bersosialisasi lintas batas, juga karena makin besarnya kontrol sosial orang lain untuk  mengukur reputasi kita. (Lelo Yosep, Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta dan Mahasiswa Pascasarjana FE Universitas Mercu Buana Jakarta)

Komputer : Jalan Menjadi Manusia

November 11th, 2009 by jose

“It is not the strongest nor the most intelligent of the species that survives, but the one that is most adaptable to change.” (Charles Darwin)

Dewasa ini, kita dapat membandingkan antara kegairahan kita dalam diskusi daya magis agama sepanjang sejarah peradaban manusia dan kegairahan kita berbicara tentang komputer sejak era 1980-an. Agama dan komputer telah berpengaruh besar pada pola pikir, pola sikap, dan pola perilaku manusia dalam usahanya memaknai diri di tengah relasi dengan sesama dan realitas lain di sekelilingnya.

Di negara-negara maju, komputer jadi way of life dari masyarakat. Sebagai way of life, mereka menggunakan komputer untuk mengakses berbagai informasi dari berbagai belahan dunia lewat sistem jaringan internet. Informasi menjadi bagian penting dari proses pematangan mentalitas, emosionalitas, dan kesadaran diri. Tetapi, di Indonesia, komputer masih langka sehingga lebih dari separuh rakyat Indonesia terisolasi dari informasi. Kelangkaan tersebut disebabkan oleh sumber daya manusia pemerintahan yang belum maksimal mengelola informasi sebagai aset bagi proses perubahan sosial, budaya, ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan-keamanan menuju masyarakat beradab (civil society). Persoalannya adalah bagaimana masyarakat Indonesia bisa membangun civil society dalam kondisi minimnya sarana sumber informasi?

Komputer menjadi sarana vital globalisasi. Ia membantu kita mengakses berbagai informasi strategis seputar tatanan masyarakat global. Fungsinya yang strategis bisa menjadi konstruktif sekaligus destruktif bagi masyarakat. David J. Bolter mendeskripsikan situasi ini (Turing’s Man : Western Culture in the Computer Age, 1984), seperti dikutip Dennis C. Smolarski (1988), bahwa komputer telah menentukan bagaimana kita bertindak dan mendefinisikan diri sendiri di tengah sesama dan lingkungan hidup. Dengan kata lain, komputer mampu me-”manusia”-kan diri sendiri.

Situasi dilematis manusia

Smolarski, dalam refleksinya, The Spirituality of Computers (Spirituality Today, Winter 1988, Vol. 40 No. 4, pp. 292 -307) mendeskripsikan posisi komputer sejajar dengan fungsi kendaraan, pesawat terbang, telpon, radio, dan televisi. Yaitu, mereka membuat hidup kita kian lebih praktis sekaligus lebih kompleks. Teknologi komunikasi informasi yang baru ini (komputer) berkapasitas untuk mempertinggi penghargaan kita terhadap ciptaan yang sungguh-sungguh mengagumkan. Dengan bantuan alat-alat tadi, kita dapat bekerja lebih efisien dan efektif. Tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan dan bisnis, tetapi juga dalam berbagai upaya kegiatan kemanusiaan seperti peace building, keadilan, toleransi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Bertolak dari pengalaman kehadiran agama di tengah umat manusia, Smolarski memprediksi komputer dengan berbagai perangkat sistemnya yang canggih, akan berpengaruh posifit dan negatif pada kita, tetapi semuanya itu bergantung pada bagaimana kita sendiri memanfaatkannya.

Pendapat Smolarski, tentang kelebihan komputer itu merupakan hasil pengamatannya sendiri pada prinsip kerja komputer. Komputer bekerja pada prinsip ”setiap saat, setiap waktu interaktif”, sehingga ia mengatasi hambatan ruang dan waktu. Misalnya, seorang fotografer di lapangan bisa menyiapkan foto ke kantor pusat redaksinya hanya dalam hitungan menit bila ia memakai kamera sistem digital. Bayangkan jika seorang fotografer, yang meliput berbagai peristiwa menarik (seperti ulah para supporter, aksi para pemain sepak bola plus pelatihnya, obyek wisata dan sebagainya) seputar liga-liga di kawasan Eropa dan yang meliput berbagai peristiwa (demo, dialog, sidang, dan sebagainya) di berbagai belahan dunia, harus mencuci dulu filmnya di studio atau harus ke kantor, maka akan memerlukan waktu lama, dan mereka akan ketinggalan peristiwa di lapangan.

Komputer pun melalui perangkat khusus sistem internet telah membantu para wartawan cetak bisa melaporkan dan memantau berita dengan cepat dan cermat dari berbagai belahan dunia, yang berjarak ribuan kilometer. ”Melalui internet kita bisa menjangkau seluruh dunia. Kita bisa melihat apa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Sebelumnya itu tak mungkin,” kata Peter Kuiper, seorang pakar teknologi informasi, seperti dikutip Endang Roh Suciati (2000).

Jasa internet, misalnya, telah membuka mata masyarakat internasional apa motivasi terselubung USA untuk menyerang Irak. Kecaman terhadapa USA kemudian merupakan gerakan moral terbesar sepanjang sejarah umat manusia untuk menentang adanya peperangan atas negara lain. Saat ini, di Indonesia, ada gerakan 1.000.000 facebookers dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto untuk reformasi sistem penegakan hukum di Indonesia. Gerakan ini membuka kotak pandora konspirasi yang melemahkan sistem hukum selama ini.

Di sisi lain, komputer pun bisa mengganggu proses terbentuknya civil society bila digunakan untuk hal-hal destruktif seperti hacker yang menciptakan virus untuk mengganggu sistem informasi dan komunikasi dengan melakukan transaksi palsu, penyadapan yang melanggar privasi orang, pornografi yang bebas, dan berbagai kasus kejahatan dunia maya lainnya.

Berbagai problem yang muncul, menurut Smolarski, lebih merupakan akibat penyalahgunaan oleh kita sendiri. Banyak orang masih terbelenggu oleh obsesi lebih mementingkan diri sendiri daripada kesejahteraan bersama dan keutuhan lingkungan hidup. Smolarski menyebut pembalikan fungsi ini sebagai penyalagunaan rahmat ilahi. Perkembangan komputer dalam budaya manusia, lanjutnya, merupakan suatu perkembangan ”ilmu pengetahuan” informasi. Tetapi, perkembangan itu malah tidak membuat kita lebih dekat kepada kemanusiaan universal.

Gap ini muncul dari kekeliruan kita dalam memilih informasi untuk berelasi dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri, sesama dan Tuhan. H. Bastian, seorang teolog-pedagog, seperti dikutip Robert Bala (2003), mengingatkan bahwa sibernetik merupakan bagian khusus dari komunikasi yang diartikan sebagai kontak yang terjalin melalui informasi. Tanpa informasi, maka komunikasi akan kehilangan gairah.

Dalam konteks Indonesia, ada persoalan bagaimana kita bisa berkomunikasi dalam kenyataan pluralitas dan heterogenitas keindonesiaan? Di manakah teridentifikasi berbagai hambatan komunikasi selama ini? Persoalan ini selalu mempunyai kemendesakan tersendiri mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama. Selama ini, lantaran salah kelola informasi, umat beragama menodai jati diri agamanya yang sejati, yaitu agama yang berpihak kepada kepentingan kemanusiaan, menegakkan keadilan, peduli pada rakyat, dan menghindari kekerasan. Bagaimana memulihkan jati diri agama yang sejati di dalam setiap pribadi penganutnya? Smolarski memang tak memberikan solusi cepat saji. Ia menekankan pentingnya proses menuju kesadaran diri dan sosial yang berlandaskan komunikasi ”kasih” sebagai bahasa universal.

Informasi demi Integrasi

Komputer bukan hanya sebagai wujud perkembangan teknologi informasi, tetapi juga bentuk integrasinya berbagai aspek kehidupan kita. Komputer berperan dalam usaha penyadaran mentalitas yang masih berpusat pada egoisme dan fanatisme. Agama, misalnya, hendaknya cepat tanggap terhadap peluang ini untuk mensosialisasikan nilai-nilai religiusnya dalam berbagai aspek kehidupan kita. Begitu pula negara agar menyediakan berbagai perangkat hukum yang mengatur masyarakat dalam aplikasi kecanggihan teknologi informasi ini.

Kolaborasi antara efisiensi komputer dan berbagai bidang kehidupan merupakan berbagai kemungkinan yang tak dapat kita hindari. Maka bukan zamannya lagi untuk mengkotak-kotakkan bidang ilmu secara ketat, karena makin disadari ilmu pengetahuan pada hakikatnya, menurut Edward O. Wilson (Consilience : The Unity of Knowledge, 1998), merupakan satu kesatuan.

Pematangan mentalitas dan emosionalitas bersikap dan berprilaku rasional dan bijak atas fungsi komputer mutlak menjadi satu paket dengan pendidikan transfer teknologi informasi kepada berbagai lapisan masyarakat. Perbedaan peran komputer sebagai sarana konstruktif atau sarana destruktif bagi kita, menurut Smolarski, tampaknya sederhana, yaitu kesadaran sosial. Kesadaran sosial menentukan sebuah pilihan apa yang berpengaruh pada diri sendiri, sesama dan lingkungan. Dengan demikian, komputer bisa menjadi sarana kontrol sosial konstruktif atau destruktif bagi berbagai perkembangan bidang hidup kita hanya tergantung pada bagaimana mentalitas kita memanfaatkannya.

Akhirnya, komputer pun bisa mengundang setiap insan untuk menyadari dan mengenal kembali apakah kita dapat menempatkan kegunaan hasil ciptaan sendiri demi kemanusiaan? Jangan sampai hasil ciptaan kita justru menjadi bumerang yang mengancam kehidupan sendiri. (Lelo Yosep, Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta dan Mahasiswa Pascasarjana FE Universitas Mercu Buana Jakarta)

Musashi’s Way dalam Kelas

October 20th, 2009 by jose

images1Musashi adalah contoh orang yang belajar dari realitas sederhana di sekelilingnya. “Ternyata diperlukan banyak teknik untuk membuat barang sederhana itu,” ujar Musashi, saat ia sedang terpesona menyaksikan betapa cekatannya seorang tukang tembikar, yang umurnya hampir enam puluh tahun, menggerakkan jari-jarinya dan memainkan kape-nya untuk membuat mangkuk teh.

Pengalaman menyaksikan dan memikirkan ketrampilan, pemusatan perhatian, dan kesetiaan yang dicurahkan para tukang tembikar untuk membuat barang-barang sesederhana dan semurah itu pada zamannya, justru membuat Musashi merasa bahwa jalannya sendiri masih panjang, jika ia ingin mencapai taraf kesempurnaan dalam seni pedang yang diinginkannya sebagai prasyarat ksatria sejati pada zamannya (Eiji Yoshikawa, MUSASHI, Buku Kedua : Air)

Setiap mahasiswa datang ke kelas dengan perasaan, pikiran, beban, imajinasi, kreativitas, harapan, impian dan kemauan yang berbeda. Perbedaan ini perlu diperhatikan oleh setiap pengajar saat ia mulai menata kelas untuk berkonsentrasi dalam proses kegiatan pembelajaran.

Pertama, mulai dengan pendekatan aplikasi pelajaran yang bersangkutan dalam strategi menjawab realitas keseharian. Sebab, kelas adalah tempat untuk menformat kembali pengalaman yang mereka alami.  Kedua, best practices akan memperkuat teori sehingga pembelajaran berlangsung efektif agar siswa memahami teorinya. Terakhir, tugas mandiri untuk mahasiswa merupakan langkah awal bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori tersebut dalam pengalaman sehari-hari.